Kamis, 26 April 2012

OASE


JANGAN PERNAH, KAWAN

Seorang teman pernah berkata pada saya suatu hari, “life like a circle, hari ini kita bisa bersama, belum tentu esok hari. Whatever will be happen in our life, enjoy it. Setiap moment pasti memiliki rasa yang berbeda dan selalu ada pelajaran di dalamnya. Begitulah perjalanan ini...”.
Kedengarannya sangat klise, namun memang begitu adanya. Dalam kehidupan kita kadang tak pernah tahu apa yang terjadi pada diri kita. Ya seperti itulah, seperti roda yang berputar.. semua berjalan dinamis meski kita tak pernah tahu akan dimana posisi kita esok hari. Tapi semua perjalanan ini tlah ditata rapi olehNya dan takkan pernah keluar dari rencananya.

CERPEN

Nilai Istimewa

            Alif keluar kamar dengan wajah cemberut. Teringat kembali obrolan yang baru saja ia sudahi dengan bunda dan abangnya, Riza. Mereka bertiga baru saja membahas prestasi belajar Alif dan Riza di semester satu kemarin. Reza sang abang yang duduk di kelas V menduduki peringkat pertama di kelasnya pada semester gasal, sedangkan Alif harus puas melihat angka 12 bertengger di tangga peringkat kelasnya. Alif merasa tidak puas dan iri, ia merasa bunda membanding-bandingkan nilai mereka serta memuji prestasi abangnya.
            “Gimana ini Adek, di semester ini Abang bisa rangking tiga lho, kamu kapan? Bunda tunggu lho.” Iya ini Adek, main melulu sih!” imbuh kakaknya. Namun obrolan itu  rupanya terasa sebagai sindiran dan cibiran untuknya. Ia kecewa dan marah, serta merta langsung keluar kamar begitu saja. Dalam hati ia berniat akan menunjukkan bahwa ia juga bisa menduduki rangking pertama, bahkan akan lebih bagus dari Bang Reza.

Jumat, 20 April 2012

CERPEN

 Purnama di Langit Cerah


Bulan berwajah bundar lagi malam ini. Langit cerah tanpa bintang,
sehingga kehadiran singgasana bulan di angkasa tampak bersinar
tanpa ada saingan. Siapapun bisa menatap wajah purnama sang
bulan, persis seperti yang dilakukan oleh seorang gadis dari dalam
jendela kamarnya yang berada di lantai atas rumahnya.
Arini namanya.

Arini menatap sang bulan sambil duduk di atas bingkai jendela
kamarnya. Bulan purnama datang lagi. Itu artinya tiga bulan lagi
menjelang pernikahannya. Ada sebuah perasaan yang
sulit dilukiskan  di hatinya menjelang saat itu tiba. Perasaan
yang mengganggu pikirannya hari-hari belakangan ini, bahkan
membuatnya kehilangan konsentras untuk menyelesaikan
pekerjaannya.

Hmm…, rasa takut itu kembali muncul. Akankah dia bahagia kelak
dengan kehidupannya yang baru setelah menikah kelak?
Akankah sang Arjuna akan tetap menyayangi dia meski perubahan
waktu akan membawa hal-hal yang tidak terduga kelak?
Bagaimana jika dia ternyata tidak bisa memberikan keturunan?
Bagaimana jika dia tidak cocok dengan keluarga suaminya?
Bagaimana jika sebaliknya yang terjadi? Bagaimana jika suaminya
mengharuskan dia untuk berhenti
dari pekerjaan mapannya kini untuk berdiam di rumah?
Bagaimana jika orang tuanya yang telah menyekolahkannya
merasa sayang melihat pendidikan yang telah dienyamnya
bertahun-tahun menjadi sia-sia tak terpakai?
Bagaimana jika dia bosan dan jenuh dengan pekerjaan rutin
rumah tangga ? Bagaimana jika datang gadis  yang lebih
menarik dalam perkawinannya dan gadis itu membuat
suaminya beralih cinta ?

Senin, 16 April 2012

Akhiri dengan Indah


Akhiri dengan Indah

Kita tidak pernah bisa menduga apa yang akan terjadi di akhir hari. Mengawali hari dengan hati riang dan semangat menjulang, kadang bisa diakhiri dengan bersungut-sungut atau marah oleh sebab berbagai macam hal. Semangat dan keriangan yang tadinya dirasakan penuh, seolah-olah terkikis habis oleh satu atau dua kejadian yang dialami. Rasanya, keseluruhan hari itu menjadi begitu buruk oleh sebab peristiwa yang dialami di ujung hari.

Permulaan yang baik, selayaknya mendapatkan ‘penutupan’ yang baik pula.

BEBAS PARKIR BUKAN PARKIR GRATIS


BEBAS PARKIR BUKAN PARKIR GRATIS
Salah kaprah dalam berbahasa masih sering kita jumpai terjadi di tengah-tengah aktivitas tuturan maupun dalam penulisan yang kita lakukan. Seringkali terjadi sebuah kata diartikan atau dapat memiliki makna ganda yang disebabkan ketidaktahuan pengguna terhadap makna yang terkandung dalam kata tersebut. Salah satunya dalam pemaknaan sebuah kata atau mungkin lebih tepatnya dalam frase bebas parkir. Kita sering menjumpai rangkaian kata ini di tempat-tempat umum sebagai suatu informasi dalam berlalu lintas.
Frase bebas parkir sering diartikan orang dengan ‘dibebaskan dari pembayaran parkir’. Bebas parkir merupakan sebuah frase verbal yang terdiri dari dua kata, yaitu bebas dan parkir dengan unsur pusat verba parkir. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata bebas berarti lepas sama sekali, merdeka. Sedangkan kata parkir

Text

Text Widget

Categories

Recent Posts

BERCERITA, BERKARYA, DAN BERBAGI RASA BERSAMA

HTML Templates

Download


Halaman

Powered By Blogger
Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut