Bulan berwajah bundar lagi malam ini. Langit cerah tanpa bintang,
sehingga
kehadiran singgasana bulan di angkasa tampak bersinar
tanpa
ada saingan. Siapapun bisa menatap wajah purnama sang
bulan,
persis seperti yang dilakukan oleh seorang gadis dari dalam
jendela
kamarnya yang berada di lantai atas rumahnya.
Arini
namanya.
Arini menatap sang bulan sambil duduk di atas bingkai jendela
kamarnya.
Bulan purnama datang lagi. Itu artinya tiga bulan lagi
menjelang
pernikahannya. Ada sebuah perasaan yang
sulit
dilukiskan di hatinya menjelang saat
itu tiba. Perasaan
yang
mengganggu pikirannya hari-hari belakangan ini, bahkan
membuatnya
kehilangan konsentras untuk menyelesaikan
pekerjaannya.
Hmm…, rasa takut itu kembali muncul. Akankah dia bahagia kelak
dengan
kehidupannya yang baru setelah menikah kelak?
Akankah
sang Arjuna akan tetap menyayangi dia meski perubahan
waktu
akan membawa hal-hal yang tidak terduga kelak?
Bagaimana
jika dia ternyata tidak bisa memberikan keturunan?
Bagaimana
jika dia tidak cocok dengan keluarga suaminya?
Bagaimana
jika sebaliknya yang terjadi? Bagaimana jika suaminya
mengharuskan
dia untuk berhenti
dari
pekerjaan mapannya kini untuk berdiam di rumah?
Bagaimana
jika orang tuanya yang telah menyekolahkannya
merasa
sayang melihat pendidikan yang telah dienyamnya
bertahun-tahun
menjadi sia-sia tak terpakai?
Bagaimana
jika dia bosan dan jenuh dengan pekerjaan rutin
rumah
tangga ? Bagaimana jika datang gadis yang
lebih
menarik
dalam perkawinannya dan gadis itu membuat
suaminya
beralih cinta ? Bagaimana … wah… ternyata ada beribu
bagaimana
dan pertanyaan lain yang membuat kegalauan
di hatinya kian tidak menentu. Arini
menundukkan kepalanya
dan
membuang napasnya agar rasa galau di hatinya ikut lenyap.
Seharusnya
sebuah pernikahan itu adalah peristiwa
membahagiakan,
tapi kenapa sekarang yang muncul
adalah
berjuta
keraguan atas perolehan rasa bahagia itu. Ditatapnya
kembali
wajah rembulan. Rasa galau itu belum hilang,
meski
dia sangat ingin melenyapkan rasa yang sangat
mengganggu
itu.
---00000---
Sudah lebih dari satu jam Aditia mengamati pohon rambutan
dengan
teropong mininya. Arini mendekati adik semata
wayangnya itu hati-hati.
“Lihat apa sih dik, dari tadi kok asyik banget.“ Perlahan
dirangkulnya
pundak Aditia dari belakang. Aditia menurunkan
teropongnya dan menoleh menatap kakaknya.
“Lihat lebah mbak. Tuh…, lihat deh mbak. Mereka lagi boyongan
mau
pindah sarang.” Teropong itu kini disodorkan padanya.
Arini
meletakkan teropong itu di depan matanya.
“Yang mana dik ?” Aditia cepat memindahkan teropong itu
kembali
ke matanya sendiri, setelah mematok tempat,
Aditia memberi isyarat pada Arini untuk
mendekat.
Di
kedua lingkaran jendela teropong itu kini tampak
sebuah
barisan lebah-lebah yang terbang beriringan
mondar-mandir
keluar masuk sarang segi enam mereka
yang
masih tampak kokoh. Makhluk kecil itu tampak
terbang
mengepakkan sayapnya sementara tubuh
bagian
ekornya
tampak condong ke bawah. Tentu lebah
itu
membawa
serta madu yang dihasilkan tubuhnya sehingga
terlihat
keberatan begitu. Kepakan sayapnya tampak
bergerak
sangat cepat sehingga menimbulkan suara
berdengung
yang ramai. Asyik juga mengamati kesibukan
para
lebah ini. Pantas Aditia dari tadi begitu asyik di depan
jendela diam tak bergeming mengamati.
Arini
meletakkan siku kedua tangannya di
bingkai jendela
agar
posisi mengintipnya nyaman.
“Hei… nggak Dik. Mereka nggak semuanya pindah.
Ada
juga yang tinggal.”
“Masa
sih mbak ? Darimana mbak tahu ?” Aditia
memberondong
Arini
dengan
pertanyaan sambil menarik ujung kemeja Arini.
“Itu.. lihat deh. “ Arini memberikan teropongnya pada
Aditia
sehingga kini kegiatan mengintip lewat teropong itu
sudah
berpindah tangan.
“Ada lebah yang keluar saja, dan tidak masuk lagi,
mereka terus masuk dalam kelompok lebah yang
terbang
menjauhi sarang menuju pohon lain, tapi ada
juga lebah
yang keluar dari sarang, terbang berputar
memutari
pohon
untuk kemudian masuk lagi. Itu artinya mereka
tidak
ikut pindah, tapi mereka sedang bertugas untuk
menjaga
sarang dan mengawasi agar lebah yang pindah
tidak
merusak sarang yang mereka tinggalkan. Prajurit
lebah
namanya.” Aditia menjauhkan teropong dari depan
matanya
mendengar keterangan Arini dan menatap Arini
dengan
wajah keheranan.
“Prajurit lebah? Itu cerita khayalan mbak Arin atau
kenyataan
nih? Memangnya kerajaan apa, ada prajuritnya segala?”
Arini
bengong sejenak, tapi langsung nyengir kuda setelah
melihat
alis mata Aditia yang bertaut kebingungan.
Diacaknya
rambut Aditia dengan sebelah tangannya.
“Yeeee…, beneran dong. Masa khayalan. Hehehe….”
“Nih…, gini Dik. Dalam kehidupan lebah, hanya ada
satu
komando, yaitu sang ratu lebah. Ratu lebah itulah
yang bertelur. Lebah lain yang ada di
masyarakatnya,
ada
yang bertugas untuk mencari madu,. Ada yang bertugas
untuk
menjaga sarang dari ancaman musuh, ada juga yang
bertugas
untuk menjaga telur-telur dan menyimpan madu
yang
dikumpulkan oleh lebah pekerja. Kerja sama dalam
pembagian
tugas ini yang membuat para lebah
masing-masing
bisa konsentrasi menghasilkan yang terbaik
bagi
masyarakatnya. Tapi, suatu saat, akan
muncul lebah
betina
muda yang kualitasnya sama bagusnya
dengan
Ratu
lebah. Karena tidak boleh ada dua Ratu, maka
sang
Ratu baru ini akan pindah mencari sarang baru,
dan
dia bisa membawa serta lebah-lebah pengikutnya
untuk
membuat koloni baru tersebut.” Aditia mendengarkan
keterangan
Arini tanpa berkedip. Bahkan tidak ada
reaksi yang terjadi ketika teropong di
tangannya
diambil
oleh Arini.
“Tuh…. Mereka menuju pohon nangka di rumah pak
Haji
Soleh di depan sana. Itu artinya
sarang baru mereka
di
sana insya Allah.” Tidak ada reaksi apa-apa atau komentar
sedikitpun
dari Aditia selain,
“Mbak… kenapa mereka nggak berbagi tempat saja yah ?
Membangun dari awal kan sulit, banyak
resikonya.
Padahal mereka di tempat yang lama sudah
kenal dengan
segala
macam situasi, namanya juga lahir dan besar di sana.
Kalau
di tempat baru kan, masih asing. Belum bikin sarangnya
yang buang waktu, belum nyari tempat buat
nyari makanan,
belum
harus merhatiin takut kalau-kalau di tempat baru
ternnyata
nggak cocok dan nggak senyaman di tempat lama.
”
Aditia bertanya setengah bergumam.
Arini tidak langsung memberikan jawaban. Ditatapnya
adik
semata wayangnya itu dengan rasa sayang.
Perbedaan
usia di antara mereka cukup jauh. Arini masih
duduk
di SMP dan sudah merasa bahwa dia akan menjadi
anak tunggal selamanya ketika ibu tirinya
datang
memberi
tahu bahwa beberapa bulan lagi dia akan mendapatkan
adik
baru. Ibu kandung Arini memang sudah meninggal sejak Arini
berusia
sembilan tahun dan ayahnya menikah lagi empat tahun kemudian.
Ibu barunya itulah yang memberinya adik baru
bernama Aditia.
Kebahagiaan
mendapatkan adik baru itu, meski dari ibu yang lain,
telah
terwujud dalam perasaan sayang yang terasa tidak pernah
mengering
dari hari ke hari. Mungkin karena perbedaan usia yang
jauh sehingga Arini sudah cukup mengerti
bagaimana caranya
menerima
kehadiran adik baru.
“Mbak… ! Kok bengong sih ditanyain ?” Aditia mengguncang
lengan Arini.
“Hmm, segala sesuatu itu sudah ditentukan jalannya oleh Allah dik.“
“Maksudnya mbak ?”
“Begini…,” Arini meneguk air liurnya sejenak, sekedar untuk
membasahi
tenggorokkannya yang terasa kering.
“Segala sesuatu di muka bumi ini dalam penciptaannya sudah
diperhitungkan
oleh Allah dalam sebuah ketetapan. Misalnya,
tikus yang suka makan padi di sawah,
ditetapkan akan mati
dimakan
oleh ular sawah. Karenanya, tikus yang bisa berkembang
biak
dengan sangat cepat itu tidak meraja lela di sawah pak tani.
Nanti
ular yang memakan tikus itu, akan dimakan oleh burung elang,
burung
elang akan dimakan oleh ular yang lebih besar dan lebih
berbisa
lagi, ular itu akan dimakan oleh harimau…begitu seterusnya.”
“Seperti siklus daur makanan di pelajaran biologi yah ?” Aditia
bertanya
sambil mengulum senyum dan duduk di sisi Arini.
“Betul. Kamu sudah sampai situ yah pelajaran biologinya ?”
Arini
mengulurkan tangannya untuk mengelus rambut kepala adiknya itu.
“Iyah. Ekosistem namanya.” Aditia memberi keterangan dengan
mimik
wajah serius.
“Iyah, betul ekosistem namanya. Yah…, begitu deh dik. Al Quran
sebenarnya
sudah memberi pengajaran tentang pelajaran
ekosistem
itu terlebih dahulu jauh sebelum para ilmuwan
biologi
mengemukakan teori ekosistemnya. Semuanya disebut
sebagai
ketetapan dari Allah bagi manusia dan bumi tempat
tinggalnya.
Allah itu sudah memperhitungkan atas segala
sesuatu
yagn diciptakanNya, dan perhitungan Allah itu sudah
meliputi
mulai hal yang rumit sampai hal paling sepele. Tidak
ada
yang sia-sia dalam ciptaanNya. Kita meyakininya sebagai
takdir
yang sudah ditetapkan atas segala sesuatunya. Jadi tiap-tiap
makhluk itu sudah ditentukan bahwa dia akan
berjalan menggunakan
kakinya misalnya, atau si A terlahir sebagai
wanita sedangkan
B
sebagai pria, atau gajah akan mengibaskan telinga lebarnya
agar
tubuh besarnya tetap dalam keadaan seimbang dan kulit
tebalnya
tidak menimbulkan rasa penat kepanasan. Lembu yang
sulit
mengusir kutu-kutu di tubuhnya akan dibantu oleh burung
yang
akan memakan kutu-kutu itu. Itulah takdir, ketetapan Allah
atas segala sesuatunya. Setiap kelemahan
yang ada pada setiap
makhluk ciptaan Allah selalu diiringi dengan
kelebihan tersendiri
dan
itulah yang menjadi perlindungan bagi makhluk itu.”
Arini berhenti bicara dan mendapati Aditia sedang menatapnya
tanpa
berkedip dengan mulut menganga. Adiknya itu tampak
mempertautkan
kedua alisnya dan keningnya pun tampak
berkerut-kerut.
Wah, pasti tadi Arini sudah terlalu bersemangat
bercerita panjang lebar mengalahkan semua
singa podium.
Arini
tersenyum sumringah, malu sendiri.
“Bingung yah Dik ?” Arini menjentikkan dagu Aditia yang turun
ke
bawah hingga mulut Aditia yang terbuka karena
bengong
tertutup. Tapi Aditia mengangguk cepat sebagai
reaksi
akhirnya.
“Iyah.. ribet banget sih mbak neranginnya. Puanjanggggggg
kayak
kereta api. ” Arini tersenyum dan mengacak-acak
rambut Aditia.
“Hmm, kalau gitu…, kamu ambil Al Quran dan ensiklopedia
tentang
lingkungan hidup gih, mbak terangin satu-satu.”
“Hah ?” Aditia menatap Arini masih dalam sisa bengongnya.
“Ngaji ? Ihhhh…, malas ah ! Nanti juga Adit ngaji di TPA.”
Aditia
spontan bangkit berdiri dan berjalan mundur
menjauhi
Arini.
“Yee…, bukan lagi. Kita belajar eh bukan…
kita
buat penelitian tentang lingkungan sekitar, hmm,
soal
lebah juga boleh dibahas nanti, tapi dihubungkan
dengan Al Quran, asyik loh… tadabur alam
namanya. “
Aditia
masih menatap Arini ragu-ragu. Arini hanya tersenyum
dan
memasang wajah serius buru-buru.
“Pokoknya beda deh ama ngaji kayak di pengajian itu, ini
lebih
asyik.
”
Tidak ada reaksi dari Aditia, yang ada adalah rasa kurang
percaya
yang terlukis di wajahnya.
“Coba dulu, kamu belum tahu kan, jadi jangan curiga dulu
bahwa hal ini akan membosankan.” Glek !
Arini jadi
teringat sesuatu. Astaghfirullah, itulah
yang terjadi pada
dirinya
sendiri beberapa hari belakangan ini. Rasa curiga,
prasangka
buruk akan ketetapan hari esok yang akan
dia
jalani.
Ya Allah, terima kasih Engkau telah mengingatkan hamba
hari
ini.
Kehidupan setiap makhluk itu sudah diperhitungkan oleh
Allah,
dan Allah adalah Tuhan Yang Maha Penyayang
dan
Pengasih. Dia tidak akan memberi cobaan di luar
kemampuan
hambaNya. Jadi apapun yang terjadi di
hari
esok tentunya sudah ada dalam perhitunganNya.
Kenapa
harus ragu dan bingung? Wahh.. kenapa bisa lupa yah?
Arini
semakin mantap kini dan itu
mempengaruhi
semangatnya untuk menerangkan banyak hal
pada
adik semata wayangnya itu. Semua pertanyaan dia
coba
jawab dengan kalimat sederhana dan santai dan
dicoba
untuk dikaitkan dengan Al Quran, agar adiknya
tidak
lagi mempunyai prasangka bahwa mengkaji
Al
Quran itu adalah sesuatu yang membosankan.
Untuk
jatuh cinta pada Al Quran itu harus dimulai
dengan
mengenalnya terlebih dahulu.
“Mbak…, memangnya ada yah binatang menyusui
yang
bertelur ?”
Aditia
tidak henti-hentinya bertanya, hingga matahari
condong
ke arah barat, dan azan ashar terdengar
di
kejauhan.
Nanti malam, bulan purnama muncul lagi, dan
insya
Allah itu adalah bulan purnama terakhir yang
bisa
Arini nikmati dari bingkai jendela kamarnya
sebagai
seorang gadis, karena minggu depan dia
akan
menikah. Arini tersenyum dalam hati, keyakinannya
akan
perlindungan Allah kian menancap erat di dalam hati.
Terserah
bagaimana warna hari esok, karena yang utama itu
adalah
apa yang kita usahakan hari ini. Jika kita
melakukannya
dengan baik insya Allah hasilnya akan
baik
pula dan akan lebih baik lagi jika diiringi dengan tujuan
hanya
untuk mendapatkan keridhaan Allah semata.
Subhanallah,
Maha Suci Allah.
---00000---
“Dia Yang menciptakan segala sesuatu, lalu Dia menetapkan
atasnya takdir (ketetapan) yang
sesempurna-sempurnanya
“(QS.
25 :2)
“Dan tidak sesuatu pun kecuali ada di sisi Kami khasanah
(sumber)nya
dan Kami tidak menurunkannya kecuali
dengan
kadar (ukuran) tertentu”(QS. 15 :21)
|
0 komentar:
Posting Komentar