Jumat, 20 April 2012

CERPEN

 Purnama di Langit Cerah


Bulan berwajah bundar lagi malam ini. Langit cerah tanpa bintang,
sehingga kehadiran singgasana bulan di angkasa tampak bersinar
tanpa ada saingan. Siapapun bisa menatap wajah purnama sang
bulan, persis seperti yang dilakukan oleh seorang gadis dari dalam
jendela kamarnya yang berada di lantai atas rumahnya.
Arini namanya.

Arini menatap sang bulan sambil duduk di atas bingkai jendela
kamarnya. Bulan purnama datang lagi. Itu artinya tiga bulan lagi
menjelang pernikahannya. Ada sebuah perasaan yang
sulit dilukiskan  di hatinya menjelang saat itu tiba. Perasaan
yang mengganggu pikirannya hari-hari belakangan ini, bahkan
membuatnya kehilangan konsentras untuk menyelesaikan
pekerjaannya.

Hmm…, rasa takut itu kembali muncul. Akankah dia bahagia kelak
dengan kehidupannya yang baru setelah menikah kelak?
Akankah sang Arjuna akan tetap menyayangi dia meski perubahan
waktu akan membawa hal-hal yang tidak terduga kelak?
Bagaimana jika dia ternyata tidak bisa memberikan keturunan?
Bagaimana jika dia tidak cocok dengan keluarga suaminya?
Bagaimana jika sebaliknya yang terjadi? Bagaimana jika suaminya
mengharuskan dia untuk berhenti
dari pekerjaan mapannya kini untuk berdiam di rumah?
Bagaimana jika orang tuanya yang telah menyekolahkannya
merasa sayang melihat pendidikan yang telah dienyamnya
bertahun-tahun menjadi sia-sia tak terpakai?
Bagaimana jika dia bosan dan jenuh dengan pekerjaan rutin
rumah tangga ? Bagaimana jika datang gadis  yang lebih
menarik dalam perkawinannya dan gadis itu membuat
suaminya beralih cinta ? Bagaimana … wah… ternyata ada beribu
bagaimana dan pertanyaan lain yang membuat kegalauan
 di hatinya kian tidak menentu. Arini menundukkan kepalanya
dan membuang napasnya agar rasa galau di hatinya ikut lenyap.
Seharusnya sebuah pernikahan itu adalah peristiwa
membahagiakan, tapi kenapa sekarang  yang muncul adalah
berjuta keraguan atas perolehan rasa bahagia itu. Ditatapnya
kembali wajah rembulan. Rasa galau itu belum hilang,
meski dia sangat ingin melenyapkan rasa yang sangat
mengganggu itu.

---00000---


Sudah lebih dari satu jam Aditia mengamati pohon rambutan
dengan teropong mininya. Arini mendekati adik semata
 wayangnya itu hati-hati.

“Lihat apa sih dik, dari tadi kok asyik banget.“ Perlahan
dirangkulnya pundak Aditia dari belakang. Aditia menurunkan
 teropongnya dan menoleh menatap kakaknya.

“Lihat lebah mbak. Tuh…, lihat deh mbak. Mereka lagi boyongan
mau pindah sarang.” Teropong itu kini disodorkan padanya.
Arini meletakkan teropong itu di depan matanya.

“Yang mana dik ?” Aditia cepat memindahkan teropong itu
kembali ke matanya sendiri, setelah mematok tempat,
 Aditia memberi isyarat pada Arini untuk mendekat.
Di kedua lingkaran jendela teropong itu kini tampak
sebuah barisan lebah-lebah yang terbang beriringan
mondar-mandir keluar masuk sarang segi enam mereka
yang masih tampak kokoh. Makhluk kecil itu tampak
terbang mengepakkan sayapnya  sementara tubuh bagian
ekornya tampak condong ke bawah.  Tentu lebah itu
membawa serta madu yang dihasilkan tubuhnya sehingga
terlihat keberatan begitu. Kepakan sayapnya tampak
bergerak sangat cepat sehingga menimbulkan suara
berdengung yang ramai. Asyik juga mengamati kesibukan
para lebah ini. Pantas Aditia dari tadi begitu asyik di depan
 jendela diam tak bergeming mengamati.
Arini meletakkan  siku kedua tangannya di bingkai jendela
agar posisi mengintipnya nyaman.

“Hei… nggak Dik. Mereka nggak semuanya pindah.
Ada juga yang tinggal.”
“Masa sih mbak ? Darimana mbak tahu ?” Aditia
memberondong Arini
dengan pertanyaan sambil menarik ujung kemeja Arini.

“Itu.. lihat deh. “ Arini memberikan teropongnya pada
Aditia sehingga kini kegiatan mengintip lewat teropong itu
sudah berpindah tangan.

“Ada lebah yang keluar saja, dan tidak masuk lagi,
 mereka terus masuk dalam kelompok lebah yang terbang
 menjauhi sarang menuju pohon lain, tapi ada juga lebah
 yang keluar dari sarang, terbang berputar memutari
pohon untuk kemudian masuk lagi. Itu artinya mereka
tidak ikut pindah, tapi mereka sedang bertugas untuk
menjaga sarang dan mengawasi agar lebah yang pindah
tidak merusak sarang yang mereka tinggalkan. Prajurit
lebah namanya.” Aditia menjauhkan teropong dari depan
matanya mendengar keterangan Arini dan menatap Arini
dengan wajah keheranan.

“Prajurit lebah? Itu cerita khayalan mbak Arin atau
kenyataan nih? Memangnya kerajaan apa, ada prajuritnya segala?”
Arini bengong sejenak, tapi langsung nyengir kuda setelah
melihat alis mata Aditia yang bertaut kebingungan.
Diacaknya rambut Aditia dengan sebelah tangannya.

“Yeeee…, beneran dong. Masa khayalan. Hehehe….”

“Nih…, gini Dik. Dalam kehidupan lebah, hanya ada
satu komando, yaitu sang ratu lebah. Ratu lebah itulah
 yang bertelur. Lebah lain yang ada di masyarakatnya,
ada yang bertugas untuk mencari madu,. Ada yang bertugas
untuk menjaga sarang dari ancaman musuh, ada juga yang
bertugas untuk menjaga telur-telur dan menyimpan madu
yang dikumpulkan oleh lebah pekerja. Kerja sama dalam
pembagian tugas ini yang membuat para lebah
masing-masing bisa konsentrasi menghasilkan yang terbaik
bagi masyarakatnya.  Tapi, suatu saat, akan muncul lebah
betina muda yang kualitasnya  sama bagusnya dengan
Ratu lebah. Karena tidak boleh ada dua Ratu, maka
sang Ratu baru ini akan pindah mencari sarang baru,
dan dia bisa membawa serta lebah-lebah pengikutnya
untuk membuat koloni baru tersebut.” Aditia mendengarkan
keterangan Arini tanpa berkedip. Bahkan tidak ada
 reaksi yang terjadi ketika teropong di tangannya
diambil oleh Arini.


“Tuh…. Mereka menuju pohon nangka di rumah pak
Haji Soleh di depan sana.  Itu artinya sarang baru mereka
di sana insya Allah.” Tidak ada reaksi apa-apa atau komentar
sedikitpun dari Aditia selain,

“Mbak… kenapa mereka nggak berbagi tempat saja yah ?
 Membangun dari awal kan sulit, banyak resikonya.
 Padahal mereka di tempat yang lama sudah kenal dengan
segala macam situasi, namanya juga lahir dan besar di sana.
Kalau di tempat baru kan, masih asing. Belum bikin sarangnya
 yang buang waktu, belum nyari tempat buat nyari makanan,
belum harus merhatiin takut kalau-kalau di tempat baru
ternnyata nggak cocok dan nggak senyaman di tempat lama.
” Aditia bertanya setengah bergumam.

Arini tidak langsung memberikan jawaban. Ditatapnya
adik semata wayangnya itu dengan rasa sayang.
Perbedaan usia di antara mereka cukup jauh. Arini masih
duduk di SMP dan sudah merasa bahwa dia akan menjadi
 anak tunggal selamanya ketika ibu tirinya datang
memberi tahu bahwa beberapa bulan lagi dia akan mendapatkan
adik baru. Ibu kandung Arini memang sudah meninggal sejak Arini
berusia sembilan tahun dan ayahnya menikah lagi empat tahun kemudian.
 Ibu barunya itulah yang memberinya adik baru bernama Aditia.
Kebahagiaan mendapatkan adik baru itu, meski dari ibu yang lain,
telah terwujud dalam perasaan sayang yang terasa tidak pernah
mengering dari hari ke hari. Mungkin karena perbedaan usia yang
 jauh sehingga Arini sudah cukup mengerti bagaimana caranya
menerima kehadiran adik baru.

“Mbak… ! Kok bengong sih ditanyain ?” Aditia mengguncang
 lengan Arini.

“Hmm, segala sesuatu itu sudah ditentukan jalannya oleh Allah dik.“

“Maksudnya mbak ?”

“Begini…,” Arini meneguk air liurnya sejenak, sekedar untuk
membasahi tenggorokkannya yang terasa kering.

“Segala sesuatu di muka bumi ini dalam penciptaannya sudah
diperhitungkan oleh Allah dalam sebuah ketetapan. Misalnya,
 tikus yang suka makan padi di sawah, ditetapkan akan mati
dimakan oleh ular sawah. Karenanya, tikus yang bisa berkembang
biak dengan sangat cepat itu tidak meraja lela di sawah pak tani.
Nanti ular yang memakan tikus itu, akan dimakan oleh burung elang,
burung elang akan dimakan oleh ular yang lebih besar dan lebih
berbisa lagi, ular itu akan dimakan oleh harimau…begitu seterusnya.”

“Seperti siklus daur makanan di pelajaran biologi yah ?” Aditia
bertanya sambil mengulum senyum dan duduk di sisi Arini.

“Betul. Kamu sudah sampai situ yah pelajaran biologinya ?”
Arini mengulurkan tangannya untuk mengelus rambut kepala adiknya itu.

“Iyah. Ekosistem namanya.” Aditia memberi keterangan dengan
mimik wajah serius.

“Iyah, betul ekosistem namanya. Yah…, begitu deh dik. Al Quran
sebenarnya sudah memberi pengajaran tentang pelajaran
ekosistem itu terlebih dahulu jauh sebelum para ilmuwan
biologi mengemukakan teori ekosistemnya. Semuanya disebut
sebagai ketetapan dari Allah bagi manusia dan bumi tempat
tinggalnya. Allah itu sudah memperhitungkan atas segala
sesuatu yagn diciptakanNya, dan perhitungan Allah itu sudah
meliputi mulai hal yang rumit sampai hal paling sepele. Tidak
ada yang sia-sia dalam ciptaanNya. Kita meyakininya sebagai
takdir yang sudah ditetapkan atas segala sesuatunya. Jadi tiap-tiap
 makhluk itu sudah ditentukan bahwa dia akan berjalan menggunakan
 kakinya misalnya, atau si A terlahir sebagai wanita sedangkan
B sebagai pria, atau gajah akan mengibaskan telinga lebarnya
agar tubuh besarnya tetap dalam keadaan seimbang dan kulit
tebalnya tidak menimbulkan rasa penat kepanasan. Lembu yang
sulit mengusir kutu-kutu di tubuhnya akan dibantu oleh burung
yang akan memakan kutu-kutu itu. Itulah takdir, ketetapan Allah
 atas segala sesuatunya. Setiap kelemahan yang ada pada setiap
 makhluk ciptaan Allah selalu diiringi dengan kelebihan tersendiri
dan itulah yang menjadi perlindungan bagi makhluk itu.”

Arini berhenti bicara dan mendapati Aditia sedang menatapnya
tanpa berkedip dengan mulut menganga. Adiknya itu tampak
mempertautkan kedua alisnya dan keningnya pun tampak
berkerut-kerut. Wah, pasti tadi Arini sudah terlalu bersemangat
 bercerita panjang lebar mengalahkan semua singa podium.
Arini tersenyum sumringah, malu sendiri.

“Bingung yah Dik ?” Arini menjentikkan dagu Aditia yang turun
ke bawah hingga mulut Aditia yang terbuka karena
bengong tertutup. Tapi Aditia mengangguk cepat sebagai
reaksi akhirnya.

“Iyah.. ribet banget sih mbak neranginnya. Puanjanggggggg
kayak kereta api. ” Arini tersenyum dan mengacak-acak
 rambut Aditia.

“Hmm, kalau gitu…, kamu ambil Al Quran dan ensiklopedia
tentang lingkungan hidup gih, mbak terangin satu-satu.”

“Hah ?” Aditia menatap Arini masih dalam sisa bengongnya.

“Ngaji ? Ihhhh…, malas ah ! Nanti juga Adit ngaji di TPA.”
Aditia spontan bangkit berdiri dan berjalan mundur
menjauhi Arini.

“Yee…, bukan lagi. Kita belajar eh bukan…
kita buat penelitian tentang lingkungan sekitar, hmm,
soal lebah juga boleh dibahas nanti, tapi dihubungkan
 dengan Al Quran, asyik loh… tadabur alam namanya. “
Aditia masih menatap Arini ragu-ragu. Arini hanya tersenyum
dan memasang wajah serius buru-buru.

“Pokoknya beda deh ama ngaji kayak di pengajian itu, ini
lebih asyik.
” Tidak ada reaksi dari Aditia, yang ada adalah rasa kurang
percaya yang  terlukis di wajahnya.

“Coba dulu, kamu belum tahu kan, jadi jangan curiga dulu
 bahwa hal ini akan membosankan.” Glek ! Arini jadi
 teringat sesuatu. Astaghfirullah, itulah yang terjadi pada
dirinya sendiri beberapa hari belakangan ini. Rasa curiga,
prasangka buruk akan ketetapan hari esok yang akan
dia jalani.

Ya Allah, terima kasih Engkau telah mengingatkan hamba
hari ini.

Kehidupan setiap makhluk itu sudah diperhitungkan oleh
Allah, dan Allah adalah Tuhan Yang Maha Penyayang
dan Pengasih. Dia tidak akan memberi cobaan di luar
kemampuan hambaNya. Jadi apapun yang terjadi di
hari esok tentunya sudah ada dalam perhitunganNya.
Kenapa harus ragu dan bingung? Wahh.. kenapa bisa lupa yah?
Arini semakin mantap kini dan itu
mempengaruhi semangatnya untuk menerangkan banyak hal
pada adik semata wayangnya itu. Semua pertanyaan dia
coba jawab dengan kalimat sederhana dan santai dan
dicoba untuk dikaitkan dengan Al Quran, agar adiknya
tidak lagi mempunyai prasangka bahwa mengkaji
Al Quran itu adalah sesuatu yang membosankan.
Untuk jatuh cinta pada Al Quran itu harus dimulai
dengan mengenalnya terlebih dahulu.

“Mbak…, memangnya ada yah binatang menyusui
yang bertelur ?”
Aditia tidak henti-hentinya bertanya, hingga matahari
condong ke arah barat, dan azan ashar terdengar
di kejauhan.

Nanti malam, bulan purnama muncul lagi, dan
insya Allah itu adalah bulan purnama terakhir yang
bisa Arini nikmati dari bingkai jendela kamarnya
sebagai seorang gadis, karena minggu depan dia
akan menikah. Arini tersenyum dalam hati, keyakinannya
akan perlindungan Allah kian menancap erat di dalam hati.
Terserah bagaimana warna hari esok, karena yang utama itu
adalah apa yang kita usahakan hari ini. Jika kita
melakukannya dengan baik insya Allah hasilnya akan
baik pula dan akan lebih baik lagi jika diiringi dengan tujuan
hanya untuk mendapatkan keridhaan Allah semata.
Subhanallah, Maha Suci Allah.

---00000---

“Dia Yang menciptakan segala sesuatu, lalu Dia menetapkan
 atasnya takdir (ketetapan) yang sesempurna-sempurnanya
“(QS. 25 :2)

“Dan tidak sesuatu pun kecuali ada di sisi Kami khasanah
(sumber)nya dan Kami tidak menurunkannya kecuali
dengan kadar (ukuran) tertentu”(QS. 15 :21)



Kafemuslimah.com - Thursday, 26 February 2004




0 komentar:

Posting Komentar

Text

Text Widget

Categories

Recent Posts

BERCERITA, BERKARYA, DAN BERBAGI RASA BERSAMA

HTML Templates

Download


Halaman

Powered By Blogger
Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut