JANGAN PERNAH, KAWAN
Seorang teman
pernah berkata pada saya suatu hari, “life like a circle, hari ini
kita bisa bersama, belum tentu esok hari. Whatever will be happen in our life,
enjoy it. Setiap moment pasti memiliki rasa yang berbeda dan selalu ada pelajaran
di dalamnya. Begitulah perjalanan ini...”.
Kedengarannya sangat klise, namun memang begitu
adanya. Dalam kehidupan kita kadang tak pernah tahu apa yang terjadi pada diri
kita. Ya seperti itulah, seperti roda yang berputar.. semua berjalan dinamis meski kita tak pernah tahu
akan dimana posisi kita esok hari. Tapi semua perjalanan ini tlah ditata rapi
olehNya dan takkan pernah keluar dari rencananya.
Hidup penuh liku-liku orang bilang, ada suka ada
duka (Ehm, kok jadi kayak lagu ya,hehe.. ^_^). Semua orang tampaknya memang
telah menyadari hal tersebut. Namun selalu dan tetap saja ada orang, diantara
kita yang terkadang merasa hidup tak adil ketika kedukaan, kekecewaan,
kegagalan, dan segala keadaan yang tak kita inginkan mendera kita dalam hidup
bertubi-tubi. Mengapa? Karena manusia tak pernah bisa bersyukur dalam setiap
keadaan? Karena manusia memiliki fitrah bersifat lemah dan mudah mengeluh? Atau
karena individu tersebut tak memiliki pertahanan diri dan mental yang kuat?
Atau karena sebab-sebab lain yang ’melemahkan’? hanya diri sendiri yang mampu
menjawabnya.
Ketika diri didera permasalahan yang rumit,
sehingga membuat dahi berkerut, nafsu makan hilang, konsentrasi kerja dan
belajar terganggu, memang wajar bila merasa hidup yang dijalani begitu berat.
Ketika sulit mendapatkan atau menjemput rizqi, ketika harapan tak terwujud atau
kesempatan melayang, mungkin wajar kita akan merasa kecewa dan kesal. Ketika
segala usaha telah kita lakukan namun tak jua menemui hasil dan ketika apa yang
telah kita kerjakan tak mendapatkan penghargaan, tak dianggap, mungkin wajar
jika hati terasa sakit, kekesalan dan kemarahan bersarang.
Namun kawan, jangan pernah...
Jangan pernah kau menggugat Tuhanmu atas ketidakadilan
yang kau rasakan
Jangan pernah kau hujat dan salahkan Tuhanmu atas
segala kemalangan nasib
Jangan pernah kau pertanyakan pada Tuahnmu atas
rewads yang tak sampai padamu
Mengeluh, bersedih, marah, kecewa, sakit hati
suatu kewajaran, namun jangan pernah jadikan hal tersebut sebagai alasan kita
menjauh dariNya.
Kawan...
beginilah hidup. Terkadang kita merasa menjadi orang termalang bahkan tak berdaya
saat segala kedukaan menghampiri kita. Padahal jika kita mau lebih melihat,
mengenal, dan merasakan setiap langkah ini, bukan tidak mungkin sebenarnya
kedukaan itu tidak lebih banyak dan besar presentasenya ketimbang kebahagiaan
yang telah diberikan olehNya, kesenangan yang kita rasakan.
Saya pun belum bisa seutuhnya bmemahami
makna-makna itu. Saya pun masih sering sangat sedih bahkan terlarut dalam
kesedihan ketika kedukaan itu menyapa, saya
pun masih sering kehilangan kontrol emosi ketika kekecewan terasa memuncak di
ubun-ubun, dan segala ekspresi diri yang seharusnya bisa dikendalikan oleh hati
dan pikiran kita jika kita mau sedikit lebih melihat, mendengar dan merasakan
apa yang sebenarnya terjadi.
Kita semua memang manusia biasa namun kita
mempunyai Tuhan, Allah azza wa jalla maha segala maha yang dapat mengajari,
membimbing, membuat kita merasa bahkan menjadi insan yang luar biasa. Hanya
kadang kita terlupa atau terlalu naif dan sombong untuk mendekatkan diri ini padaNya.
Jika Dia memelihara bermiliar bintang di langit, apakah berat untuk sekedar
menjaga diri ini? Dia kan selalu menjaga
dan melindungi kita, insyaallah. Jika kita mau mendekat padaNya.


0 komentar:
Posting Komentar