Kamis, 26 April 2012

CERPEN

Nilai Istimewa

            Alif keluar kamar dengan wajah cemberut. Teringat kembali obrolan yang baru saja ia sudahi dengan bunda dan abangnya, Riza. Mereka bertiga baru saja membahas prestasi belajar Alif dan Riza di semester satu kemarin. Reza sang abang yang duduk di kelas V menduduki peringkat pertama di kelasnya pada semester gasal, sedangkan Alif harus puas melihat angka 12 bertengger di tangga peringkat kelasnya. Alif merasa tidak puas dan iri, ia merasa bunda membanding-bandingkan nilai mereka serta memuji prestasi abangnya.
            “Gimana ini Adek, di semester ini Abang bisa rangking tiga lho, kamu kapan? Bunda tunggu lho.” Iya ini Adek, main melulu sih!” imbuh kakaknya. Namun obrolan itu  rupanya terasa sebagai sindiran dan cibiran untuknya. Ia kecewa dan marah, serta merta langsung keluar kamar begitu saja. Dalam hati ia berniat akan menunjukkan bahwa ia juga bisa menduduki rangking pertama, bahkan akan lebih bagus dari Bang Reza.
            Pembelajaran di semester dua pun dimulai. Alif berazzam kuat bahwa ia akan bisa mengungguli kakaknya. Ia mulai mengurangi kebiasaan mainnya yang tak mengenal waktu. Ia belajar sungguh-sungguh, setiap tugas dan PR selalu ia kerjakan dengan tepat waktu. Bahkan di hari Minggu ia menolak ajakan renang ayah karena ingin belajar untuk ulangan harian esok hari, padahal berenang adalah salah satu hobinya. Malamnya ia belajar hingga larut, sampai bunda bingung melihat perubahan drastis bungsu kesayangannya itu.
“Adek, belajarnya getol banget. Sampai nolak ajakan renang ayah, tumben. Ada apa sih? Cerita dong sama Bunda.”
“ Besok Alif ada ulangan matematika Bun dan Alif pengen bisa dapat nilai seratus, jadi Alif belajar giat buat besok. Doakan Alif ya Bun, Alif akan buktikkan bahwa Alif juga bisa pintar seperti Bang Reza!”
“Oh, gitu. Pasti Sayang, Bunda doakan ulangan matematika besok lancar dan sukses!”
“Loh, kok cuma gitu Bund doanya. Doakan nilai Alif seratus dong, biar bisa rangking satu kayak Bang Reza.”
“Ok..Ok.. Bunda doakan semoga nilai Alif seratus! Eh, hayo sudah sholat isya belum, sholat dulu yuk, dan berdoa pada Allah untuk kemudahan mengerjakan ulangan besok.”
Paginya Alif berangkat sekolah dengan hati berdebar. Meskipun ini bukan ujian semester, namun ia ingin nilai ulangan ini menjadi bukti awal bahwa ia bisa menjadi sehebat Bang Reza. Ia ingin Bunda, Ayah, dan Bang Reza tahu itu.
“Assalamu’alaykum anak-anak!” Suara renyah Bu Elya menyapa kelas, membuat Reza semakin berdebar menantikan soal ulangan dibagikan.
“Apa kabar hari ini anak-anak? Sudah siap untuk ulangan matematika?”
“Siap Bu Elya!” jawab Alif dan teman-teman serempak.
“Baiklah, siapkan alat tulis kalian. Buku catatan dimasukkan ke dalam tas. Ibu akan bagikan soal ulangannya.”
 “ 20 soal pilihan ganda dalam waktu 45 menit. Sebelum mengerjakan soal, mari kita baca basmallah bersama terlebih dahulu.”
“Bismillahirrohmanirrohim.” Koor para siswa terdengar penanda ulangan dimulai.

Kelas menjadi hening seketika. Semua siswa fokus pada kertas soal yang ada di hadapan masing-masing. Bu Elya mengawasi dari meja guru sambil sesekali mendekati meja siswa untuk mengecek pekerjaannya. 45 menit sudah berlalu.
“Mari kita koreksi bersama, silakan keras ulangan ditukarkan dengan teman sebangku.”
Dengan setengah yakin Alif berikan kertas ulangannya pada teman sebangkunya. Ia pun menerima kertas yang sama milik Ridho.

Sepekan berlalu. Hari ini Bu Elya akan membagikan hasil ulangan matematika minggu lalu. Berdebar Alif menunggu namanya dipanggil untuk menerima hasil kerja keras dan belajar semalaman.
Begitu namanya dipanggil, ia bergegas mendatangi meja guru dan perlahan membuka matanya. Senyum puas menghias bibirnya. Sempurna! Nilai 100 bertengger di dalam kolom nilai kertas ulangan matematikanya. Ia puas dan bahagia. Akhirnya saat yang ia tunggu datang, menunjukkan prestasinya di hadapan keluarganya. Nilai seratus pertama yang ia raih di kelas 3 ini. Semakin sempurna karena besok hari Minggu, jadi dia bisa merayakan keberhasilannya dengan pergi berenang setelah hari Minggu kemarin tertunda. Ia merasa sangat gembira.
Alif pulang dengan senyum mengembang. Ia berencana akan mengumumkan keberhasilannya saat makan malam nanti, saat ayah, bunda dan Bang Reza berkumpul.
Dan saat makan malam, “Ehem..ehem…, Ayah, Bunda, Bang Reza, Alif punya pengumuman penting nih. dengarkan ya! Hari ini Alif mendapat nilai 100 untuk ulangan matematika! Hebat kan!”
“Alhamdulillah. Selamat ya Sayang”, ucapan dari bunda meluncur diikuti kecupan sayang di pipiya.
“Wah, hebat kamu Lif, Abang bangga padamu. Adik Abang ternyata pintar juga. Selamat ya!”
“Selamat ya Nak, Ayah bangga padamu. Sudah berucap terimakasih sama Allah belum?”
“Iya, Ayah. Terimakasih Ayah, Bunda, dan Abang. Alif senang sekali hari ini. Ayah, sebagai ganti minggu lalu, bolehkan kalau besok kita renang bersama?”
“Oh, tentu Nak. Sekaligus kita merayakan prestasi belajarmu. Besok kita akan pergi ke Water Park bersama. Bunda dan Abang setuju kan?”
“Dengan senang hati, Ayah!” ujar bunda dan abang serempak. Senyum pun semakin mengembang di wajah Alif.

Setelah menyelesaikan makan malamnya, Alif dan keluarganya melanjutkan dengan ngobrol-ngobrol. Canda tawa sesekali terdengar melengkapi kebahagiaan Alif malam itu.
Alif beranjak untuk tidur. Senyum masih saja menghiasi wajahnya. Kemudiaan ia membaca doa sebelum tidur dan memejamkan mata. Tapi aneh, matanya tidak mau terpejam. Perasaannya juga menjadi tidak enak. Seketika itu ia teringat pada hari saat ulangan matematika berlangsung.
“Eh, Dho, punyaku aku koreksi sendiri saja. Kamu juga koreksi sendiri saja ya, ini aku kembalikan.”
“Loh, kenapa Lif? Kan bu Elya minta kita untuk menukarkan pekerjaan kita.”
“Tidak apa-apa. Hanya saja jika nanti ada jawabanku yang salah, aku pengen menulis jawaban benarnya langsung di kertas itu biar mudah untuk belajar lagi. Tenang saja, aku jujur kok, kamu percaya aku kan?”
“Oh, gitu. Baiklah.”
Entah mendapat bisikan dari mana hingga Alif terbersit ide seperti itu. Saat bu Elya sibuk menuliskan jawaban di papan tulis dan Ridho juga fokus pada koreksi pekerjaannya, diam-diam Alif mengganti jawaban di kertas ulangannya dengan jawaban yang benar seperti yang dituliskan bu Elya tanpa mencoret nomor soal yang salah.
 Paginya Alif bangun dengan wajah kusut, pantas saja karena semalam ia baru bisa memejamkan mata setelah lewat pukul 12 malam. Ia masih bimbang dengan hatinya. Ada rasa sesal dalam hatinya, namun ia juga belum rela untuk melepas kebanggaan hatinya.
“Ayo Alif, sholat subuh, sudah ditunggu sama Ayah dan Bang Reza tuh,” suara Bunda membuat Alif tersadar dan bergegas beranjak.
Setelah sholat, Alif termenung. Diremasnya kertas ulangan bernilai seratus itu sambil bergumam, “Aku tidak boleh berbohong dan berbuat curang!” Kemudian ia bergegas menemui keluarganya yang bersiap sarapan pagi di meja makan.
“Bunda, Ayah, Bang Reza, maafin Alif ya, nilai itu bukan nilai Alif. Alif tidak jujur dan berbuat curang saat ulangan biar mendapat nilai seratus dan dipuji Bunda, ayah dan Bang Reza. Alif menyesal.” Air mata menetes di sudut matanya.
Bunda meraih mengelus kepala Alif sambil berucap, “Bunda bangga sama Alif,” perkataan Bunda mengejutkan Alif. Alif tak mengerti.
“Iya, karena anak Bunda berani mengakui kesalahannya dan berkata jujur. Dan yang perlu Alif ketahui, Bunda, Ayah, dan Bang Reza hanya akan sayang dan bangga pada Alif jika Alif mendapat nilai seratus. Tanpa itu pun, semua sayang Alif karena Alif anak yang sholeh, rajin sholat, patuh pada Ayah dan Bunda,” ucap Bunda. Ayah dan Bang Reza juga mengangguk dan tersenyum membenarkan ucapan Bunda.
“Makasih ya Bunda,” jawab Alif disertai anggukan. Dalam hati ia berjani tidak akan berbuat curang lagi dalam ulangan dan akan belajar lebih giat lagi.

============================00===========================
Rizqi Nur Farida
Solo, 11 April 2014

0 komentar:

Posting Komentar

Text

Text Widget

Categories

Recent Posts

BERCERITA, BERKARYA, DAN BERBAGI RASA BERSAMA

HTML Templates

Download


Halaman

Powered By Blogger
Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut