Nilai Istimewa
Alif keluar kamar dengan wajah cemberut. Teringat kembali obrolan yang
baru saja ia sudahi dengan bunda dan abangnya, Riza. Mereka bertiga baru
saja membahas prestasi belajar Alif dan Riza di semester satu kemarin.
Reza sang abang yang duduk di kelas V menduduki peringkat pertama di
kelasnya pada semester gasal, sedangkan Alif harus puas melihat angka 12
bertengger di tangga peringkat kelasnya. Alif merasa tidak puas dan
iri, ia merasa bunda membanding-bandingkan nilai mereka serta memuji
prestasi abangnya.
“Gimana ini Adek, di semester ini Abang bisa rangking tiga lho, kamu
kapan? Bunda tunggu lho.” Iya ini Adek, main melulu sih!” imbuh
kakaknya. Namun obrolan itu rupanya terasa sebagai sindiran dan cibiran
untuknya. Ia kecewa dan marah, serta merta langsung keluar kamar begitu
saja. Dalam hati ia berniat akan menunjukkan bahwa ia juga bisa
menduduki rangking pertama, bahkan akan lebih bagus dari Bang Reza.
Pembelajaran di semester dua pun dimulai. Alif berazzam kuat bahwa ia
akan bisa mengungguli kakaknya. Ia mulai mengurangi kebiasaan mainnya
yang tak mengenal waktu. Ia belajar sungguh-sungguh, setiap tugas dan PR
selalu ia kerjakan dengan tepat waktu. Bahkan di hari Minggu ia menolak
ajakan renang ayah karena ingin belajar untuk ulangan harian esok hari,
padahal berenang adalah salah satu hobinya. Malamnya ia belajar hingga
larut, sampai bunda bingung melihat perubahan drastis bungsu
kesayangannya itu.
“Adek, belajarnya getol banget. Sampai nolak ajakan renang ayah, tumben. Ada apa sih? Cerita dong sama Bunda.”
“
Besok Alif ada ulangan matematika Bun dan Alif pengen bisa dapat nilai
seratus, jadi Alif belajar giat buat besok. Doakan Alif ya Bun, Alif
akan buktikkan bahwa Alif juga bisa pintar seperti Bang Reza!”
“Oh, gitu. Pasti Sayang, Bunda doakan ulangan matematika besok lancar dan sukses!”
“Loh, kok cuma gitu Bund doanya. Doakan nilai Alif seratus dong, biar bisa rangking satu kayak Bang Reza.”
“Ok..Ok..
Bunda doakan semoga nilai Alif seratus! Eh, hayo sudah sholat isya
belum, sholat dulu yuk, dan berdoa pada Allah untuk kemudahan
mengerjakan ulangan besok.”
Paginya
Alif berangkat sekolah dengan hati berdebar. Meskipun ini bukan ujian
semester, namun ia ingin nilai ulangan ini menjadi bukti awal bahwa ia
bisa menjadi sehebat Bang Reza. Ia ingin Bunda, Ayah, dan Bang Reza tahu
itu.
“Assalamu’alaykum
anak-anak!” Suara renyah Bu Elya menyapa kelas, membuat Reza semakin
berdebar menantikan soal ulangan dibagikan.
“Apa kabar hari ini anak-anak? Sudah siap untuk ulangan matematika?”
“Siap Bu Elya!” jawab Alif dan teman-teman serempak.
“Baiklah, siapkan alat tulis kalian. Buku catatan dimasukkan ke dalam tas. Ibu akan bagikan soal ulangannya.”
“ 20 soal pilihan ganda dalam waktu 45 menit. Sebelum mengerjakan soal, mari kita baca basmallah bersama terlebih dahulu.”
“Bismillahirrohmanirrohim.” Koor para siswa terdengar penanda ulangan dimulai.
Kelas
menjadi hening seketika. Semua siswa fokus pada kertas soal yang ada di
hadapan masing-masing. Bu Elya mengawasi dari meja guru sambil sesekali
mendekati meja siswa untuk mengecek pekerjaannya. 45 menit sudah
berlalu.
“Mari kita koreksi bersama, silakan keras ulangan ditukarkan dengan teman sebangku.”
Dengan setengah yakin Alif berikan kertas ulangannya pada teman sebangkunya. Ia pun menerima kertas yang sama milik Ridho.
Sepekan
berlalu. Hari ini Bu Elya akan membagikan hasil ulangan matematika
minggu lalu. Berdebar Alif menunggu namanya dipanggil untuk menerima
hasil kerja keras dan belajar semalaman.
Begitu
namanya dipanggil, ia bergegas mendatangi meja guru dan perlahan
membuka matanya. Senyum puas menghias bibirnya. Sempurna! Nilai 100
bertengger di dalam kolom nilai kertas ulangan matematikanya. Ia puas
dan bahagia. Akhirnya saat yang ia tunggu datang, menunjukkan
prestasinya di hadapan keluarganya. Nilai seratus pertama yang ia raih
di kelas 3 ini. Semakin sempurna karena besok hari Minggu, jadi dia bisa
merayakan keberhasilannya dengan pergi berenang setelah hari Minggu
kemarin tertunda. Ia merasa sangat gembira.
Alif
pulang dengan senyum mengembang. Ia berencana akan mengumumkan
keberhasilannya saat makan malam nanti, saat ayah, bunda dan Bang Reza
berkumpul.
Dan
saat makan malam, “Ehem..ehem…, Ayah, Bunda, Bang Reza, Alif punya
pengumuman penting nih. dengarkan ya! Hari ini Alif mendapat nilai 100
untuk ulangan matematika! Hebat kan!”
“Alhamdulillah. Selamat ya Sayang”, ucapan dari bunda meluncur diikuti kecupan sayang di pipiya.
“Wah, hebat kamu Lif, Abang bangga padamu. Adik Abang ternyata pintar juga. Selamat ya!”
“Selamat ya Nak, Ayah bangga padamu. Sudah berucap terimakasih sama Allah belum?”
“Iya,
Ayah. Terimakasih Ayah, Bunda, dan Abang. Alif senang sekali hari ini.
Ayah, sebagai ganti minggu lalu, bolehkan kalau besok kita renang
bersama?”
“Oh,
tentu Nak. Sekaligus kita merayakan prestasi belajarmu. Besok kita akan
pergi ke Water Park bersama. Bunda dan Abang setuju kan?”
“Dengan senang hati, Ayah!” ujar bunda dan abang serempak. Senyum pun semakin mengembang di wajah Alif.
Setelah
menyelesaikan makan malamnya, Alif dan keluarganya melanjutkan dengan
ngobrol-ngobrol. Canda tawa sesekali terdengar melengkapi kebahagiaan
Alif malam itu.
Alif
beranjak untuk tidur. Senyum masih saja menghiasi wajahnya. Kemudiaan
ia membaca doa sebelum tidur dan memejamkan mata. Tapi aneh, matanya
tidak mau terpejam. Perasaannya juga menjadi tidak enak. Seketika itu ia
teringat pada hari saat ulangan matematika berlangsung.
“Eh, Dho, punyaku aku koreksi sendiri saja. Kamu juga koreksi sendiri saja ya, ini aku kembalikan.”
“Loh, kenapa Lif? Kan bu Elya minta kita untuk menukarkan pekerjaan kita.”
“Tidak
apa-apa. Hanya saja jika nanti ada jawabanku yang salah, aku pengen
menulis jawaban benarnya langsung di kertas itu biar mudah untuk belajar
lagi. Tenang saja, aku jujur kok, kamu percaya aku kan?”
“Oh, gitu. Baiklah.”
Entah
mendapat bisikan dari mana hingga Alif terbersit ide seperti itu. Saat
bu Elya sibuk menuliskan jawaban di papan tulis dan Ridho juga fokus
pada koreksi pekerjaannya, diam-diam Alif mengganti jawaban di kertas
ulangannya dengan jawaban yang benar seperti yang dituliskan bu Elya
tanpa mencoret nomor soal yang salah.
Paginya
Alif bangun dengan wajah kusut, pantas saja karena semalam ia baru bisa
memejamkan mata setelah lewat pukul 12 malam. Ia masih bimbang dengan
hatinya. Ada rasa sesal dalam hatinya, namun ia juga belum rela untuk
melepas kebanggaan hatinya.
“Ayo Alif, sholat subuh, sudah ditunggu sama Ayah dan Bang Reza tuh,” suara Bunda membuat Alif tersadar dan bergegas beranjak.
Setelah
sholat, Alif termenung. Diremasnya kertas ulangan bernilai seratus itu
sambil bergumam, “Aku tidak boleh berbohong dan berbuat curang!”
Kemudian ia bergegas menemui keluarganya yang bersiap sarapan pagi di
meja makan.
“Bunda,
Ayah, Bang Reza, maafin Alif ya, nilai itu bukan nilai Alif. Alif tidak
jujur dan berbuat curang saat ulangan biar mendapat nilai seratus dan
dipuji Bunda, ayah dan Bang Reza. Alif menyesal.” Air mata menetes di
sudut matanya.
Bunda meraih mengelus kepala Alif sambil berucap, “Bunda bangga sama Alif,” perkataan Bunda mengejutkan Alif. Alif tak mengerti.
“Iya,
karena anak Bunda berani mengakui kesalahannya dan berkata jujur. Dan
yang perlu Alif ketahui, Bunda, Ayah, dan Bang Reza hanya akan sayang
dan bangga pada Alif jika Alif mendapat nilai seratus. Tanpa itu pun,
semua sayang Alif karena Alif anak yang sholeh, rajin sholat, patuh pada
Ayah dan Bunda,” ucap Bunda. Ayah dan Bang Reza juga mengangguk dan
tersenyum membenarkan ucapan Bunda.
“Makasih
ya Bunda,” jawab Alif disertai anggukan. Dalam hati ia berjani tidak
akan berbuat curang lagi dalam ulangan dan akan belajar lebih giat lagi.
============================00===========================
Rizqi Nur Farida
Solo, 11 April 2014


0 komentar:
Posting Komentar